KHITAN ANAK PEREMPUAN ??

PERTANYAAN
Bagaimana hukum Islam mengenai khitan bagi anak-anak
perempuan?
JAWABAN
Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama bahkan oleh para
dokter sendiri, dan terjadi perdebatan panjang mengenai hal
ini di Mesir selama beberapa tahun.
Sebagian dokter ada yang menguatkan dan sebagian lagi
menentangnya, demikian pula dengan ulama, ada yang
menguatkan dan ada yang menentangnya. Barangkali pendapat
yang paling moderat, paling adil, paling rajih, dan paling
dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan
ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits
– meskipun tidak sampai ke derajat sahih – bahwa Nabi saw.
pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan
wanita ini, sabdanya:
“Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan,
karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan
suami.”
Yang dimaksud dengan isymam ialah taqlil (menyedikitkan),
dan yang dimaksud dengan laa tantahiki ialah laa tasta’shili
(jangan kau potong sampai pangkalnya). Cara pemotongan
seperti yang dianjurkan itu akan menyenangkan suaminya dan
mencerahkan (menceriakan) wajahnya, maka inilah barangkali
yang lebih cocok.
Mengenai masalah ini, keadaan di masing-masing negara Islam
tidak sama. Artinya, ada yang melaksanakan khitan wanita dan
ada pula yang tidak. Namun bagaimanapun, bagi orang yang
memandang bahwa mengkhitan wanita itu lebih baik bagi
anak-anaknya, maka hendaklah ia melakukannya, dan saya
menyepakati pandangan ini, khususnya pada zaman kita
sekarang ini. Akan hal orang yang tidak melakukannya, maka
tidaklah ia berdosa, karena khitan itu tidak lebih dari
sekadar memuliakan wanita, sebagaimana kata para ulama dan
seperti yang disebutkan dalam beberapa atsar.
Adapun khitan bagi laki-laki, maka itu termasuk syi’ar
Islam, sehingga para ulama menetapkan bahwa apabila Imam
(kepala negara Islam) mengetahui warga negaranya tidak
berkhitan, maka wajiblah ia memeranginya sehingga mereka
kembali kepada aturan yang istimewa yang membedakan umat
Islam dari lainnya ini.
———————–
Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi


Sholat JAMAK & QOSHOR

BAB I

Sholat Qoshor

Fashal I

Pengertian Qoshor

 Menurut lughoh/bahasa, Qoshor berasal dari isim Masdhar, yaitu

قَصْرًا-يَقْصُرُ-قَصَرَ

A: Artinya: Meringkas atau memendekkan.

B: Menurut Syara: Qoshor ialah:

·         Mengembalikan Sholat pada awal diwajibkan

·         Meringkas sholat menjadi dua-dua rokaat.

Pengertian tersebut berdasarkan hadits dari:

1. SB: I: 2: 36

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا قَالَتْ: الصَّلاَةُ  أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَانِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلاَةُ الْحَضَرِ

Dari Aisyah ra telah berkata: Sholat itu pada awal mula di Fardhukan dua rokaat, lalu ditetapkan (yang dua) untuk sholat Safar dan disempurnakan untuk yang berada ditempat.

2. SB: I: 2: 38           

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ B فَكَانَ لاَ يَزِيْدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَأَبَابَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ كَذ’لِكَ رَضِيَ الله ُ عَنْهُمْ

 Dari Ibnu Umar berkata: Aku pernah menemani Rosulullah B, maka beliau tidak pernah menambah didalam Safar lebih dari dua rokaat, dan Abu Bakar, Umar dan Utsman begitu semuanya.

3. SM: I: 301: 1

 عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيَّ B أَنَّهَا قَالَتْ: فُرِضَتِ الصَّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِى الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَزِيْدَ فِى صَلاَةِ الْحَضَرِ

Dari Aisyah, isteri Nabi B. Sesungguhnya ia berkata: Di Fardhukan sholat dua rokaat, dua rokaat diwaktu hadhor dan Safar. Maka ditetapkan (yang dua) untuk sholat Safar dan ditambah lagi didalam sholat hadhor (ada ditempat)

4. SM: I: 307: 2

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ.أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ B قَالَتْ: فَرَضَ الله ُالصَلاَةَ حِيْنَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَمَّهَا فِى الْحَضَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ عَلَى الْفَرِيْضَةِ اْلأُوْلَى

Dari Urwah bin Zubair, bahwa Aisyah isteri Nabi B telah berkata: Allah telah mewajibkan sholat, ketika Dia wajibkan sholat itu dua rokaat. Kemudian Dia sempurnakan didalam yang hadir. Maka ditetapkan sholat Safar atas kewajiban yang pertama (dua)

5. SM: I: 307: 3

 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الصَّلاَةَ أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَ أُتِمَّتْ صَلاَةُ الْحَضَرِ. 

Dari Aisyah. Bahwa sholat itu awal mulanya di fardhukan dua rokaat. Maka (yang dua) ditetapkan untuk sholat Safar dan disempurnakan untuk yang ada ditempat.

6. SM: I: 308: 5 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ الله ُالصَّلاَ ةَ عَلََى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ B فِى الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَفِى السَّفَرِ رَكْعَبتَيْنِ وَ فِى الْخَوْفِ رَكْعَةً.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Allah telah mewajibkan sholat melalui Nabimu B yang berada ditempat empat rokaat, dalam keadaan Safar dua rokaat dan dalam keadaan takut (perang) satu rokaat.

7. SM: I: 308: 6

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِنَّ الله َ فَرَضَ الصَّلاَةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ B عَلَى الْمُسَافِرِ رَكْعَتَيْنِ وَ عَلَى الْمُقِيْمِ أَرْبَعًا وَ فِى الْخَوْفِ رَكْعَةً.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabimu B kepada musafir dua rokaat, kepada muqim empat rokaat dan dalam keadaan takut satu rokaat

8. SAD: I: 280: 1198

عَنْ عَائِشَةَ  قَالَتْ: فُرِضَتِ الصَّلاَةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِى الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَ زِيْدَ فِى صَلاَةِ الْحَضَرِ.

Dari Aisyah telah berkata: Diwajibkan sholat itu dua-dua rokaat didalam hadhir dan Safar. Maka ditetapkan (yang dua) untuk sholat Safar dan ditambah untuk sholat hadhir

 9. SN: II: 3: 118  

عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ: صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B فِى السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَ مَعَ أَبِى بَكْرٍ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ رَكْعَتَيْنِ رَضِيَ الله ُعَنْهُمَا.

Dari Abdullah telah berkata: Aku pernah sholat bersama Rosulullah B didalam Safar dua rokaat dan bersama Abu Bakar juga dua rokat dan bersama Umar juga dua rokaat ra.

10. SN: II: 3: 118

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ عُمَرَ قَالَ: صَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَ النَّحْرِ رَكْعَتَانِ وَالسَّفَرِرَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ النَّبِيِّ B

Dari Abdur-Rohman bin Abi Laila. Dari Umar telah berkata: Sholat Jum’at dua rokaat, sholat Idul Fitri dua rokaat dan Idul Adha dua rokaat. Sholat Safar dua rokaat, tamam bukan Qoshor menurut lisan Nabi B.

11.SN: II: 118/119

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فُرِضَتِ الصَّلاَةُ فِى الْحَضَرِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ B أَرْبَعًا وَصَلاَةُ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَصَلاَةُ الْخَوْفِ رَكْعَةً 

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Di Fardhukan sholat hadhor melalui lisan Nabimu B empat rokaat dan sholat Safar dua rokaat dan sholat khouf satu rokaat

12. SN: II: 3: 119

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِنَّ الله َعَزَّوَجَلَّ فَرَضَ الصَّلاَةَ عَلَ‍ى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ B فِى الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَ فِى السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَ فِى الْخَوْفِ رَكْعَةً. 

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabimu B didalam hadhor empat rokaat dan didalam Safar dua rokaat dan dalam Khauf (perang) satu rokaat.

Keterangan.

 

1.       Berdasarkan hadits-hadits diatas, bahwa Qoshor itu dua rokaat.

2.       Berdasarkan hadits-hadits diatas juga bahwa awal mula di Fardhukan sholat yang lima waktu itu dua-dua.

3.       Sebagai ketetapan, akhirnya yang dua rokat dijadikan untuk sholat Safar.

4.       Maka sholat Safar itu, baik Zhuhur, Ashor, Maghrib, Isya dan Shubuh dikembalikan pada awal mula diwajibkan, yaitu dua rokaat.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fashal 2

Perintah Qoshor

Allah SWT menetapkan bagi musafir yang sudah memenuhi syarat untuk mengqoshor sholat, baik keadaan aman ataupun tidak. Menetapkan untuk mengqoshor sholat. Perintah qoshor itu ialah:

1. Qs: 4: 101 

وَإذَا ضَرَبْتُمْ فِى الأَرِضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلَوةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذَيْنَ كَفَرُوْا……

&   “Dan apabila kamu bepergian dimuka bumi, maka tidak lah mengapa kamu mengqoshor sholat, jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir….”

2. SM: I: 307: 4

عَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ: قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ الْجَطَّابِ ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ  جُنَاحٌ أَنْ تَقْصَرُوا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا ) فَقَدْ أَمِنَ النَّاسُ فَقَالَ عَجِِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ B عَنْ ذ’لِكَ فَقَالَ: صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Umar bin Khotob (tentang ayat) yang artinya: (Tidaklah apa-apa bagi kamu untuk mengqoshor sholat, jika kamu takut di serang oleh orang-orang kafir) padahal orang-orang sudah aman, lalu Umar menjawab: Aku juga pernah merasa heran seperti yang kamu herankan. Maka aku bertanya kepada Rosulullah B tentang hal itu maka beliau menjawab: Itu adalah sohdaqoh yang Allah shodaqohkan kepada kamu, maka terimalah shodaqoh itu.

3. SN: II: 3: 116

عَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ: قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذَيْنَ كَفَرُوْا ) فَقَدْ أَمِنَ النَّاسُ فَقَالَ عُمَرُ t عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ B عَنْ ذ’لِكَ فَقَالَ: صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ الله ُبِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ

Artinys: lihat: SM: I: 307: 4

4. SAD: I: 281: 1199

عَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ:قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: أَرَأَيْتَ إِقْصَارِ النَّاسِ الصَّلاَةَ وَإِنَّمَاقَالَ اللهُ عَزَّوَجَلَّ ( إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الذَينَ  كَفَرُوْا ) فَقَدْ ذَهَبَ ذاَلِكَ الْيَوْمَ فَقَالَ: عَجِبْتُ مِمَّا عَجَبْتَ مِنْهُ فَذَكَرْتُ ذاَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ B فَقَالَ:صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ الله ُعزوجلّ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَه

 Dari Ya’la bin Umayyah telah berkata: Aku pernah bertanya kepada Umar bin Khotob: Apakah pendapatmu tentang orang-orang mengqoshor sholat padahal sungguh-sungguh Allah Azza wa Jalla berfirman: (jika kamu takut di kejar oleh orang-orang kafir) Maka sungguh-sungguh hari itu telah tiada lagi. Maka dia menjawab: Aku pernah merasa heran tentang apa yang menjadi keherananmu, maka beliau menjawab: Itu adalah shodaqoh yang telah Allah berikan kepada kamu, maka terimalah shodaqoh-Nya

5. SN: II: 3: 117

عَنْ أُمَيَّةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ خَالِدٍ أَنَّهُ قَالَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ إِنَّا نَجِدُ صَلاَةَ الْحَضَرِ وَصَلاَةَ الْخَوْفِ فِى الْقُرْآنِ وَلاَ نَجِدُ صَلاَةَ السَّفَرِ فِى الْقُرْآنِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ يَا ابْنَ أَخِى إِنَّ اللهَ عَزََّ وَجَلَّ بَعَثَ إِلَيْنَا مُحَمَّدًا B وَلاَ نَعْلَمُ شَيْئًا وَ إِنَّمَا نَفْعَلُ كَمَا رَأَيْنَا مُحَمَّدًا B يَفْعَلُ

Dari Umayyah bin Abdillah bin Kholid sesunguhnya ia pernah bertanya kepada Abdullah bin Umar: Kami telah dapati sholat hadhor dan sholat khouf di Al-Quran. Dan tidak kami dapati sholat Safar didalam Al-Quran. Maka Ibnu Umar berkata kepadanya: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus Muhammad saw dalam keadaan kita tidak mengetahui apa-apa, dan kita tidak melakukan apa-apa selain apa yang Muhammad B lakukan.

Penjelasan

1.       Qs: 4: 101 dan beberapa hadits diatas menetapkan bahwa apabila Safar yang sudah ada syarat untuk melakukan Qoshor maka wajib mengqoshor sholat.

2.       Walaupun historisnya ayat tersebut dalam keadaan khouf. Maka dalam keadaan amanpun, bagi musafir tetap wajib mengqoshor sholat.

3.       Hal itu sebagai Ittiba kepada Rosulullah B

 

Fashal 3 

Jarak Yang Wajib Mengqoshor Sholat

Jarak yang ditetapkan untuk mengqoshor sholat adalah sejauh antara Madinah dan Makkah atau Madinah dan Mina. Hal tersebut dapat diketahui dari hadits-hadits dibawah ini.

A. Jarak Madinah dan Makkah.

1. SB: I: 2: 36

عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِى إِسْحَاقَ قَالَ:سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ:خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتىَّ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِيْنَةِ.

Dari Yahya bin Ishaq telah berkata: Aku pernah mendengar Anas berkata: Kami keluar bersama Nabi B dari Madinah ke Makkah. Maka ada beliau sholat dua rokaat-dua rokaat sampai kami kembali ke Madinah.

2. SM: I: 309: 15

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةََ فَصّلَّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ قُلْتُ: كَمْ أَقَامَ بِمَكَّةَ ؟ قَالَ: عَشْرًا

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Kami pernah pergi bersama Rosulullah B dari Madinah ke Makkah, maka beliau sholat dua rokaat-dua rokaat sampai beliau kembali (ke Madinah). Aku bertanya: Berapa lama beliau menetap di Makkah ? Ia menjawab: 10 hari.

3. SM: I: 309: 15

حَدَّ ثَنِى يَحْيَى بْنُ أَبِى إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: خَرَجْنَا مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى الْحَجِّ ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَه

Menceritakan kepada saya Yahya bin Abi Ishaq. Ia berkata: Aku pernah mendengar Anas bin Malik berkata: Kami pernah pergi bersama Nabi B dari Madinah ke Haji kemudian Anas menyebutkan seperti diatas.

4. SAD: I: 287: 1233

حَدَّ ثَنِى يَحْيَى ابْنُ أَبِى إِسْحَاقَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَأ إِلَى الْمَدِيْنَةِ.

Bercerita kepada saya Yahya bin Abi Ishaq, dari Anas bin Malik telah berkata: Kami pernah keluar bersama Rosulullah B dari Madinah menuju Makkah, maka beliau sholat dua rokaat sampai kami kembali ke Madinah.

5. ST: 2: 23: 543

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ B خَرَجَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ لاَ يَخاَ فُ إِلأَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Nabi B keluar dari Madinah menuju Makkah tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Robbul Alamin. Maka beliau sholat dua rokaat.

6.ST: 2:20: 546

عَنْ أَنَسِِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَالَ:قُلْتُ: ِلاَنَسٍ:كَمْ أَقَامَ رَسُولُ اللهِ B بِمَكَّةَ ؟ قَالَ:عَشْرًا

Dari Anas bin Malik telah berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi B dari Madinah menuju Makkah, maka beliau sholat dua rokaat. Ia bertanya: Aku bertanya kepada Anas: Berapa lama Rosulullah B menetap di Makkah ? Anas menjawab: 10 hari.

Penjelasan

Dengan beberapa hadits diatas jelas bahwa:

1.       Jarak yang wajib mengqoshor sholat antara Madinah dan Makkah.

2.       Baik dalam keadaan aman, tetap disyariatkan apabila jarak perjalanan sejauh itu mengqoshor sholat.

B. Jarak Madinah Dan Mina.

 

1.SB: I: 2: 34/35

عَنْ عَبْدِ اللهِ t قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيَّ B بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَ أَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ t صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا

Dari Abdullah ra telah berkata: Aku sholat bersama Nabi B di Mina dua rokaat dari Abu Bakar, Umar dan Utsman pertengahan dari pemerintahannya kemudian ia menyempurnakannya.

2. SB: I: 2: 35

 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْماَنِ بْنِ يَزِيدٍ  يَقُولُ صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ t بِمِنًى أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ فَقِيْلَ ذ’لِكَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ t فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ t بِمِنًى رَكْعَتَيْنِى وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ فَلَيْتَ حَظَيِ مِنْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

Dari Abdur-Rohman bin Yazid berkata: Usman bin Affan sholat bersama kami di Mina empat rokaat. Maka hal itu di katakan kepada Abdullah bin Mas’ud ra lalu ia mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun. Kemudian ia berkata: Aku pernah sholat bersama Rosulullah B di Mina dua rokaat. Dan aku pernah sholat bersama Abu Bakar ra di Mina dua rokaat. Dan aku pernah sholat   bersama Umar bin Khotob ra di Mina juga dua rokaat. Maka aku beruntung dari empat menjadi dua rokaat yang sama nilainya.

3.SM: I: 310: 16 

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ رَسُولِ اللهِ B أَنَّهُ صَلَّى صَلاَةَ الْمُسَافِرِ بِمِنًى وَ غَيْرِه ِرَكْعَتَيْنِ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَ عُثْمَانُ رَكْعَتَيْنِ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا أَرْبَعًا

Dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, dari Rosulullah B sesungguhnya beliau sholat sebagai sholat musafir di Mina dan lainnya dua rokaat, dan Abu Bakar dan Umar dan Ustman juga dua rokaat. Pertengahan dari kekholifahannya, kemudian Utsman menyempurnakannya empat rokaat.

4. SM: I: 310: 17 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:صَلَّى رَسُولُ اللهِ B بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَأَبُوبَكْرٍ بَعْدَهُ وَعُمَرُ بَعْدَ أَبِى بَكْرٍ وَعُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ ثُمَّ إِنَّ عُثْمَانَ صَلَّى بَعْدُ أَرْبَعًا

Dari Ibnu Umar telah berkata: Rosulullah B sholat di Mina dua rokaat dan Abu Bakar sesudahnya dan Umar sesudah Abu Bakar. Dan Utsman pertengahan dari kekholifahannya, kemudian Utsman sholat sesudah itu empat rokaat.

5. SM: I: 310: 18

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ B بِمِنًى صَلاَةَ الْمُسَافِرِ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ ثَمَانِيَ سِنِيْنَ أَوْ قَالَ: سِتَّ سِنِيْنَ قَالَ حَفْصٌ: وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُصَلِّى بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ

Dari Ibnu Umar telah berkata: Nabi sholat di Mina sebagai sholat musafir dan Abu Bakar, Umar dan utsman selama 8 tahun atau 6 tahun. Berkata Hafsho: Dan Ibnu Umar sholat di Mina dua rokaat. 

6. SM: I: 310: 19

عَنْ عَبْدِالرَّحْماَنِ بْنِ يَزِيْدَ يَقُوْلُ:صَلَّى بِنَا عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ فَقِيْلَ ذ’لِكَ لِعَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ. فَاسْتَرْجَعَ ثُمَّ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلَّيْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ . وَصَلَّيْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ. فَلَيْتَ حَظِّى مِنْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ. 

Dari Abdur-Rohman bin Yazid, ia berkata: Utsman sholat bersama kami di Mina empat rokaat. Maka di katakan hal itu kepada Abdullah bin Mas’ud, lalu ia membaca Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun, kemudian berkata: Aku pernah sholat bersama Rosulullah B di Mina dua rokaat dan aku juga pernah sholat bersama Abu Bakar Shidiq di Mina dua rokaat. Dan aku pernah sholat bersama Umar bin Khotob di Mina dua rokaat. Maka alangkah enaknya empat rokaat menjadi dua rokaat dengan pahala yang besar.

7. SM: I: 311: 20  

عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B بِمِنًّى أَمِنَ مَاكَانَ النَّاسُ وَأَكْثَرَهُ رَكْعَتَيْنِ

Dari Haritsah bin Wahab telah berkata: Aku pernah sholat bersama Rosulullah B di Mina, orang sudah banyak dan sudah merasa aman dua rokaat.

8. SM: I: 311: 21

عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ الْخُزَا عِيِّ قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ B بِمًِى وَالنَّاسُ أَكْثَرُ مَاكَانُوا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِىحَجَّةِ الْوَدَاعِ

Dari Haritsah bin Wahab Al-Khuzaiy telah berkata: Aku pernah sholat di belakang Rosulullah B di Mina dan orang-orang lebih banyak mereka berada, maka beliau sholat dua rokaat pada waktu haji wada.

9. SN: II: 3: 119

عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ الْخُزَاعِيَّ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيَّ B بِمِنًى أَمِنَ مَاكَانَ النَّاسُ وَأَكْثَرَهُ رَكْعَتَيْنِ

Dari Haritsah bin Wahab Al-Khuzaiy telah berkata: Aku pernah sholat bersama Nabi B di Mina orang-orang lebih banyak lagi mereka merasa aman dua rokaat.

10. SN: II: 3: 120  

   عَنْ حَرِثَةَ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ B بِمِنًى أَكْثَرَ مَاكَانَ النّاَسُ وَأَمَنَهُ رَكْعَتَيْنِ

Dari Haritsah bin Wahab telah berkata: Rosulullah B sholat bersama kami di Mina orang-orang dalam keadaan sudah aman dua rokaat.

11. SN: II: 3: 120

عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B بِمِنًى وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثمَانَ رَكْعَتَيْنِ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ

Dari Anas bin Malik sesungguhnya ia berkata: Aku pernah sholat di Mina bersama Rosulullah B dan bersama Abu Bakar dan Umar dua rokaat. Dan bersama Utsman dua rokaat pertengahan dari pemerintahannya.

12. SN: II: 3: 121

عَنْ عَبدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ B بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ وَصَلاَّهَا أَبُوْ بَكْرٍ رَكْعَتَيْنِ وَصَلاَّ هَا عُمَرُ رَكْعَتَيْنِ وَصَلاَّ هَا عُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَ فَتِهِ

Dari Abdbullah bin Umar dari bapaknya telah berkata: Rosulullah B sholat di Mina dua rokaat, dan Abu Bakar sholat di Mina dua rokaat. Dan Umar sholat di Mina juga dua rokaat dan Utsman juga sholat sampai pertengahan dari kekholifahannya.

 

Keterangan

1.       Hadits-hadits diatas menjelaskan bahwa Rosulullah B, Abu Bakar, Umar dan Utsman Safar sampai Mina sholat mereka Qoshor menjadi dua rokaat

2.       Perlu diketahui bahwa Utsman setelah pertengahan dari pemerintahannya ia mempunyai keluarga di Mina, makanya sholatnya tamam.

3.       Jadi siapa saja yang Safar sejauh antara Madinah dan Makkah atau Madinah dan Mina, sebagai ittiba kepada Rosulullah B maka sholatnya Qoshor.

4.       Karena Rosulullah B dan para shohabatnya melakukan demikian.

Fashal 4 

Jarak Memulai Mengqoshor Sholat

 

Setelah kita mengetahui batasan Safar yang mewajibkan kita sholat Qoshor. Maka sejak jarak berapa kita memulai untuk mengqoshor sholat ? Di dalam hadits dijelaskan sebagai berikut:

1. SB: I: 2: 36

عَنْ أًَنَسٍ t قَالَ: صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِيِّ B بِالْمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَبِذِى الْحُلَيفَةِ رَكْعَتَيْنِ.

Dari Anas ra telah berkata; Aku pernah sholat Zhuhur bersama Nabi saw di Madinah empat rokaat dan di Dzul Hulaifah dua rokaat.

2. SM: I: 309: 10   

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ B صَلَّى الظُّهْرَبِالمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِىالْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ.

Dari Anas sesungguhnya Rosulullah B sholat Zhuhur di Madinah empat rokaat dan sholat Ashor di Dzul Hulaifah dua rokaat.

3. SM: I: 309: 11

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ وَإِبْرَا هِيْمَ بْنِ مَيْسَرَةَ سَمِعَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: صَلَّيْتُ مَعَ رسُولِ اللهِ B الظُّهْرَ بِالمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْعَصْرَ بِذِىالْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ.

Dari Muhammad bin Al-Munkadir dan Ibrohim bin Maesaroh, keduanya telah mendengar Anas bin Malik, ia berkata: Aku pernah sholat bersama Rosulullah B sholat Zhuhur di Madinah empat rokaat dan sholat Ashor bersama beliau di Dzul Hulaifah dua rokaat.

4. SAD: I: 281: 1202

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَقُوْلُ: صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B الظُّهْرَ بِالْمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku pernah sholat Zhuhur bersama Rosulullah B di Madinah empat rokaat dan Ashor di Dzul Hulaifah dua rokaat.

5. ST: 2: 29: 544  

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيَّ B الظَّهْرَ بِالْمَدِيْنَةِ أَرْبَعًا وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ.

Dari Anas bin Malik telah berkata; Kami pernah sholat Zhuhur bersama Nabi B di Madinah empat rokaat dan Ashor di Dzul Hulaifah dua rokaat.

Penjelasan

1.       Hadits-hadits diatas menetapkan, jika Rosulullah B Safar dari Madinah menuju Makkah atau Mina, memulai mengqoshor sholat di Dzul Hulaifah. Jadi kita bisa perkirakan jarak Madinah dan Dzul Hulaifah.

Dan ketetapan ini merupakan yang sudah dilakukan oleh Rosulullah B dan para shohabatnya. Jadi kita tidak boleh menentukan sendiri jarak memulainya, karena sudah ada contoh dari Rosulullah B dan para shohabat.

Fashal 5

Safar Yang Sudah ada Qoshor Tidak ada Sunnah Rawatib.

Safar yang sudah ditetapkan harus mengqoshor sholat, tidak ada lagi sholat Sunnah Rowatib (sunnah Qobliyah dan Ba’diyah). Sebagaimana hadits-hadits dibawah ini:

1. SM: I: 308: 8

عَنْ عِيْسَ بْنِ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِى طَرِيْقِ مَكَّةَ قَالَ:فَصَلَّى لَنَا الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ وَ أَقْبَلْنَا مَعَهُ حَتَّى جَاءَ رَحْلَهُ وَجَلَسَ وَجَلَسْنَا مَعَهُ فَحَانَتْ مِنْهُ إِلْتِفَا تَةٌ نَحْوَ حَيْثُ صَلَّى فَرَأَى نَاسًا قِيَا مًا فَقَالَ: مَا يَصْنَعُ هَؤُلآءِ ؟ قُلْتُ: يُسَبِّحُوْنَ قَالَ: لَوْكُنْتُ مُسَبِّحًا َلأَتْمَمْتُ صَلاَتِى يَاابْنَ أَخِى ! إِنِّى صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ B فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللهُ وَ صَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللهُ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يِزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللهُ وَ صَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يِزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللهُ وَقَدْ قَالَ اللهُ😦 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ) 33:الأ حذاب: 12

Dari Isya bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khotob dari bapaknya telah berkata: Aku pernah menemani Ibnu Umar dalam perjalanan ke Makkah. Ia berkata: Maka dia sholat Zhuhur untuk kami dua rokaat. Kemudian setelah dia selesai dan kamipun selesai sholat, dia pergi kami mengikutinya sampai ditempat istirahatnya. Dan dia duduk maka kamipun duduk bersamanya. Lalu ia menoleh dan ia lihat seolah-olah masih ada yang sholat. Maka ia melihat orang-orang berdiri (lagi). Maka ia bertanya: Apa yang mereka lakukan ? Aku jawab: Mereka sedang sholat sunnah. Dia berkata: Andaikata aku harus sholat sunnah, niscaya aku tamamkan saja sholatku. Wahai anak saudaraku ! Sesungguhnya aku pernah menemani Rosulullah B dalam Safar. Maka beliau tidak pernah lebih dua rokaat. Sampai Allah mewafatkan beliau. Dan aku pernah menemani Abu Bakar, maka diapun tidak pernah lebih dari dua rokaat, sampai Allah mewafatkannya. Dan aku juga pernah menemani Umar, diapun tidak pernah lebih dari dua rokaat. Sampai Allah mewafatkannya. Dan aku juga pernah menemani Utsman, maka ia pun tidak pernah lebih dari dua rokaat, sampai Allah mewafatkannya. Dan sungguh-sungguh Allah berfirman

Qs: 33: 21.(artinya) . Sungguh-sungguh telah ada untuk kamu pada diri Rosulullah teladan yang baik.

3.SM: I: 308: 9

عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ. قَالَ: مَرِضْتُ مَرَضًا فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ يَعُوْدُنِى قَالَ:وَسَأَلْتُهُ عَنِ السُّبْحَةِ فِى السَّفَرِ. فَقَالَ: صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ B فِى السَّفَرِ فَمَا رَأَيْتُهُ يُسَبِّحُهُ وَ لَوْكُنْتُ مُسَبِّحًا َلأَتْمَمْتُ وَقَدْ قَالَ الله ُ تَعَالَى:( لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ)

Dari Hafsh bin Ashin telah berkata: Aku pernah jatuh sakit dengan benar-benar sakit. Kemudian Ibnu Umar datang menjengukku. Ia berkata: Dan saya bertanya kepadanya tentang sholat sunnah didalam Safar. Maka Ibnu Umar menjawab: Aku pernah menemani Rosulullah B didalam Safar, maka aku tidak melihat beliau sholat sunnah. Dan andaikata aku harus sunnah, niscaya aku sempurnakan saja sholatku, dan sungguh-sungguh Allah Ta’ala telah berfirman Qs: 33; 21.( artinya): Dan sungguh-sungguh telah ada untuk kamu  pada diri Rosulullah contoh yang baik.

4. SAD: I: 285/286: 1223

عَنْ عِيْسَ بِنِ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِى طَرِيْقٍ قَالَ: فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ فَرَأَى نَا سًا قِيَامًا فَقَالَ: مَايَصْنَعُ هَؤُلآءِ؟ قُلْتُ: يُسَبِّحُونَ قَالَ: لَوْ كُنْتُ مُسَبِّّحًا أَتْمَمْتُ صَلاَتِى يَا ابْنَ أَ جِى إِنِّى صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ B فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ الله ُ عَزَّ وَ جَلَّ وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ الله ُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ الله ُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يِزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ الله ُ عَزَّ وَجَلَّ وَ قَدْ قَالَ الله ُ عَزَّ وَ جَلَّ: ( لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ )

Dari Isa bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khotob, dari bapaknya, ia berkata: Aku pernah menemani Ibnu Umar dalam perjalanan. Ia berkata: Maka ia sholat bersama kami dua rokaat. Kemudian setelah selesai, ia melihat orang-orang berdiri. Lalu bertanya: Apa yang sedang mereka lakukan? Aku menjawab: Mereka sedang sholat sunnah. Ia (Ibnu Umar) berkata: Andaikata aku harus sholat sunnah, mesti aku sempurnakan saja sholatku, wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku pernah menemani Rosulullah saw didalam Safar, maka beliau tidak pernah lebih diatas dua rokaat sampai Allah Azza wajalla mewafatkannya. Dan aku pernah menemani Abu Bakar, maka dia tidak pernah menambah atas dua rokaat sampai Allah Azza wajalla wafatkan dia. Dan aku juga pernah menemani Umar, maka dia juga tidak pernah lebih atas dua rokaat sampai Allah Azza wajalla wafatkan dia. Dan aku juga pernah menemani Utman, maka diapun tidak pernah menambah atas dua rokaat sampai Allah Azza wajalla wafatkan dia. Dan sungguh-sungguh Allah Azza wajalla berfirman didalam Qs: 33: 21 (artinya): Demi sungguh telah ada untuk kamu pada diri Rosulullah suri teladan yang baik.

4.JSH: 2: 28: 542

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَافَرْتُ مَعَ النَّبِيِّ B وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَ عُثْمَانَ فَكَانُوا يُصَلُّونَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُصَلُّونَ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا وَ قَالَ عَبْدُاللهِ: لَوْ كُنْتُ مَصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْبَعْدَهَا َلأَ تْمَمْتُهَا

Dari Ibnu Umar telah berkata: Aku pernah Safar (bepergian jauh) bersama Nabi B dan Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka ada mereka sholat Zhuhur dan Ashor dua rokaat-dua rokaat, mereka tidak sholat sebelumnya dan tidak sesudahnya. Dan Abdullah berkata: Andai aku harus sholat sebelumnya atau sesudahnya, pasti aku sempurnakan sholatku.

6.SN: II: 3: 122

عَنِ ابْنِ عَبْدِالرَّحِمانِ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لاَ يَزِيْدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُصَلِّى قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَ هَا فَقِيْلَ لَهُ مَاهَذَا قَالَ هَكَذَارَاَيْتُ رَسُولَ اللهِ B يَصْنَعُ.

Dari Ibnu Abdir-Rohman telah berkata: Adalah Ibnu Umar tidak pernah didalam Safar atas dua rokaat, dia tidak sholat sebelumnya dan tidak sesudahnya maka ditanyakan kepadanya hal ini. Ia menjawab: Begitulah aku melihat Rosulullah B melakukan.

7. SN: II: 3: 123

عَنْ عِيْسَ بْنِ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ: حَدَّثَنِى أَبِى قَالَ:كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِى سَفَرٍ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَ الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَقَ إِلَى طِنفِسَةٍ لَهُ فَرَاَى قَوْمًا يُسَبِّحُوْنَ قَالَ: مَايُصْنَعُ هَؤُلاءِ ؟ قُلْتُ: يُسَبِّحُوْنَ قَالَ: لَوْ كُنْتُ مُصَلِّيًا قَبْلَهَا أَوْ بَعْدَ هَا َلأَتْمَمْتَهَا صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ B فَكَانَ لاَ يَزِيْدُ فِىالسَّفَرِ عَلَى الرَّكْعَتَيْنِ وأَبَابَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ t كَذ’لِك

Dari Isa bin Hafsh bin Ashim telah berkata: Bercerita kepadaku bapakku. Ia berkata: Aku pernah bersama Ibnu Umar didalam Safar, maka ia sholat Zhuhur dan Ashor dua rokaat, kemudian ia berpaling ke arah, maka ia melihat orang-orang sedang sholat sunnah. Ia bertanya: Apa yang sedang mereka lakukan ? Aku menjawab: Mereka sedang sholat sunnah. Ia (Ibnu Umar) berkata: Andaikata aku harus sholat sebelum dan sesudahnya, aku sempurnakan saja sholatku, aku pernah menemani Rosulullah B, maka beliau tidak pernah lebih atas dua rokaat didalam Safar, dan juga Abu Bakar sampai diwafatkan dan Umar juga Utsman ra begitu juga.

Penjelasan.

1.Hadits-hadits diatas menjelaskan, bahwa didalam Safar yang sudah diperintahkan/dilaksanakan sholat Qoshor maka Sunnah ba’diyah dan qobliyyah tidak ada.

2. Jelasnya Rosulullah B apabila Safar yang sudah terpenuhi syarat untuk mengqoshor sholat, maka Sunnah rowatib tidak beliau lakukan.

3.Selain Sunnah rowatib, masih bisa dilaksanakan, misalnya tahajjud, dhuha dll.

4. Sunnah rowatib bisa dilakukan bagi orang yang dalam keadaan hadhor/ mukim atau yang sedang sholat tamam, bagi yang sholat Qoshor tidak diperkenankan untuk sholat sunnah rowatib

 

Fashal 6

Lamanya Safar yang Wajib Qoshor

 

1. SB: I: 2: 34

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ t قَالَ: أَقَامَ النَّبِيُّ B تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا.

Dari Ibnu Abbas ra telah berkata: Nabi B muqim (di Makkah) selama 19 hari, beliau mengqoshor sholat. Maka kamipun apabila Safar selama 19 hari, kami Qoshor sholat dan jika lebih kami tamam sholat.

2. SB: I: 2: 34

عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِى إِسْحَاقَ قَالَ:سَمِعْتُ أنَسًا يَقُوْلُ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيَّ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِيْنَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ: أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا.

Dari Yahya bin Abi Ishaq telah berkata: Aku pernah mendengar Anas berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi B dari Madinah menuju Makkah, maka ada beliau sholat dua rokaat-dua rokaat sampai kami kembali ke Madinah. Saya bertanya: Apakah ada sesuatu tinggal di Madinah.Kami tinggal disana 10 hari kata Anas

3. SM: I: 309: 15

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ قُلْتُ:كَمْ أَقَامَ بِمَكَّةَ ؟ قَالَ: عَشْرًا

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Kami pernah keluar bersama Rosulullah B dari Madinah menuju Makkah, maka beliau sholat dua rokaat-rokaat sampai beliau kembali. Aku bertanya: Berapa lama di Makkah. Ia menjawab: 10 hari.

4. SAD: I: 287: 1229

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ:غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B وَشَهِدْتُ مَعَهُ الْفَتَحَ فَأَ قَامَ بِمَكَّةَ ثَمَا نِيَ عَشَرَةَ لَيْلَةً لاَ يُصَلِّى إِلأَ رَكْعَتَيْنِ يَقُوْلُ: يَاأَهْلَ الْبِلاَدِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ

Dari Imron bin Hushain telah berkata; Aku pernah ikut perang bersama Rosulullah B dan juga menyaksikan penaklukan bersama beliau. Maka beliau menetap selama 18 malam tidak sholat kecuali dua-dua rokaat. Beliau bersabda: Wahai penduduk negeri sholatlah 4 rokaat, karena sesungguhnya kami (sholat dua rokaat) adalah orang-orang yang sedang Safar.

5. SAD: I: 287: 1230

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:أَنَّ رَسُولَ اللهِ B أَقَامَ سَبْعَ عَشْرَةَ بِمَكَّةَ يَقْصُرُ الصَّلاَةَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: وَمَنْ أَقَامَ سَبْعَ عَشْرَةَ  قَصَرَ وَمَنْ أَقَامَ أَكْثَرَ أَتَمَّ 

Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rosulullah B menetap di Makkah selama 17 hari, beliau mengqoshor sholat. Ibnu Abbas berkata: Dan siapa saja yang muqim selama 17 hari hendaklah ia mengqoshor dan siapa saja yang bermuqim lebih dari itu menyempurnakan (sholat).

6. SAD: I: 287: 1231

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:أَقَامَ رَسُولُ اللهِ B بِمَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ خَمْسَ عَشْرَةَ يَقْصُرُ الصَّلاَةَ.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B menetap di Makkah pada tahun penaklukan selama 15 hari, beliau mengqoshor 

7.SAD: I: 287: 1232

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ:أَنَّ رَسُولَ اللهِ B أَقَامَ بِمَكَّةَ سَبْعَ عَشْرَةَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْن

ِDari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rosulullah B menetap di Makkah selama 17 hari beliau sholat dua rokaat.

8. SAD: I: 287: 1233

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مّكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّى رَكْعغَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِيْنَةِ فَقُلْنَا: هَلْ أَقَمْتُمْ بِهَا شَيْئًا؟َ قَالَ: أَقَمْنَا عَشْرًا

Dari Anas bin Malik telah berkata: Kami pernah keluar bersama Rosulullah B dari Madinah ke Makkah, maka beliau sholat dua rokaat sampai kami kembali ke Madinah. Maka kami bertanya: Apakah menetapnya kalian di Makkah ada sesuatu ? Ia menjawab: Kami menetap disana selama 10 hari.

9. SN: II: 3: 121

 عَنْ أَنَسِ بِنِ مَالِكٍ قَالَ:خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ  فَكَانَ  يُصَلِّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا قُلْتُ: هَلْ  أَقَامَ  بِمَكَّةَ قَالَ: نَعَمْ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا.                               

Dari Anas bin Malik telah berkata: Kami pernah bersama Rosulullah B keluar dari Madinah ke Makkah, maka ada beliau sholat bersama kami dua rokaat sampai kami kembali lagi. Aku bertanya: Apakah beliau muqim di Makkah?Ia (Anas) menjawab: Ya kami mukim disana selama 10 hari

10. SN: II: 3: 121                          

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ B أَقَامَ بِمَكَّةَ خَمْسَةَ عَشَرَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ.

Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rosulullah B bermuqim di Makkah selama 15 hari, beliau sholat dua rokaat dua rokaat.

11. JSH: 2: 30: 546 

عَنْ أَنَسِ بِنِ مَالِكٍ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيَّ B مِنَ الْمَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَالَ:قُلْتُ ِلأَنَسٍ:كَمْ أَقَامَ رَسُولُ اللهِ B بِمَكَّةَ ؟ قَالَ: عَشْرًا.

Dari Anas bin Malik telah berkata: Kami bersama Nabi B pernah keluar dari Madinah ke Makkah, maka beliau sholat dua rokaat. Ia berkata: Aku bertanya kepada Anas: Berapa lama Rosulullah B menetap di Makkah ? Ia (Anas) menjawab: 10 hari.

12. JSH: 2: 31: 547

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَافَرَ رَسُولُ اللهِ B سَفَرًا فَصَلَّى تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَنَحْنُ نُصَلِّى فِيْمَا بَيْنَنَا وَ بَيْنَ تِسْعَ عَشْرَةَ     رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فَإِذَا أَقَمْنَا أَكْثَرَ مِنْ     

ذ’لِكَ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B pernah pergi dalam suatu bepergian selama 19 hari maka beliau sholat dua rokaat dua rokaat. Ibnu Abbas berkata: Maka kami sholat di antara 19 hari itu dua rokaat dua rokaat lalu apabila kami menetap lebih dari itu kami sholat 4 rokaat.  

Penjelasan. 

1.       Diantara hadits-hadits itu ada bermacam-macam tentang bermuqimnya Rosulullah saw di Makkah antara lain ada yang 10 hari, 19 hari, 18 hari, 17 hari dan 15 hari. Hal ini bisa saja terjadi. Karena Safar beliau dalam rangka Haji atau Umroh atau kepentingan lain.

2.       Pada prinsipnya tidak penting lamanya disatu negeri atau kota, adakah niat menetap atau tidak. Jika ada niatan untuk kembali, seperti orang yang ibadah Haji. Maka selama itu pula dia sholat Qoshor. Tetapi jika dia bekerja atau pelajar yang menetap, maka begitu sampai dia sudah harus sholat tamam. Jelasnya adalah niat. Jika seseorang berniat ingin menetap maka wajib tamam. Jika seseorang Safar dalam rangka, misalnya survei atau study perbandingan selama itu pula dia wajib Qoshor.

3.       Adapun ucapan Ibnu Abbas: Apabila kami menetap selama 19 hari, kami Qoshor, dan apabila lebih dari itu kami tamam sholatnya. Ini pendapat Ibnu Abbas, bukan hadits Rosulullah saw. Dan tidak bisa dijadikan Hujjah.

Kesimpulan.

1. Sholat Qoshor bukan suatu pilihan, tetapi ketetapan (Qs:4:101)

2. Safar yang harus mengqoshor sholat jarak tempuh antara Madinah dan Mina atau antara Madinah dan Makkah (bisa diperkirakan), kurang dari itu tidak ada Qoshor.

3.Jarak mulai mengqoshor sholat adalah sejauh antara (jika dari Madinah ke Makkah (adalah di Dzul Hulaifah.)

4.Lamanya Safar tidak terbatas, tetapi jika ingin menetap maka selama itu pula sholat harus tamam.

5.       Adapun hadits yang bercerita mengenai 3 mil sudah Qoshor, haditsnya lemah. Lafazhnya sbb.

حَدَّثَنَاهُ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِى شَيْبَةَ وَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ كِلاَهُمَا عِنْ غُنْدَرٍ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيْدَ الهُنَائِيِّ قَالَ:سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِالصَّلاَةَ فَقَالَ:كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا خَرَجَ مَسِيْرَةَ ثَلاَثَةَ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَ ثَةِ فَرَاشِخَ (شُعْبَةُ الشَّكُ) صَلَّى رَكْعَتَيْنِ (رواه مسلم)

Telah bercerita kepadanya Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Muhammad bin Bayan, kedua-duanya dari Gundar. Berkata Abu Bakar: Bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far yakni Gundar dari Syabah, dari Yahya bin Yazid Al-Hunaiy, ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang Qoshor sholat ? Maka ia menjawab: Adalah Rosulullah B apabila keluar untuk bepergian sejauh tiga mil; atau tiga farsakh (Syu’bah ragu) beliau sholat dua rokaat. (SM: I: 309: 12).

Pada hadits ini perawi ragu-ragu (yaitu Syu’bah) antara 3 mil atau 3 farsakh. Dan hadits ini di dalam rawinya ada yang ragu-ragu, maka keduanya lemah, maka hadits ini tidak bisa diamalkan. Dan juga berlawanan dengan hadits yang Isbat, yaitu Sejauh Madinah dan Mina atau Madinah dan Makkah.  

 Fashal 7

Apakah Qoshor itu Wajib atau Rukhshoh Hukumnya

 

Ada dua pendapat tentang hukum Qoshor ini yaitu:

1.       Wajib

2.       Rukhshoh.

Golongan yang berpendapat wajib, mereka beralasan:   

 

1.       Kepastian Rosulullah B yang selalu mengqoshor dalam semua sholat didalam Safar, dan tidak ada sama sekali satu haditspun yang menyebutkan bahwa beliau sholat tamam. Sebagaimana dijelaskan dari hadits Ibnu Umar:

SB: I: 2: 38

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صَحِبْتُ رَسُولِ اللهِ B فَكَانَ لاَ يَزِيْدُ فِى السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذ’لِكَ رَضِيَ الله عنهم 

Dari Ibnu Umar telah berkata: Aku pernah menemani Rosulullah B, maka ada beliau tidak pernah lebih didalam Safar atas dua rokaat, dan juga Abu Bakar dan Umar dan Utsman begitu juga.

2.       Hadits dari Aisyah riwayat, Bukhory, Muslim dan Abu Daud, yaitu (SB: I: 2: 36. SM: I: 307:1,2dan3. SAD: I: 280: 1198.)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا قَالَتْ:اَلصَّلاَةُ أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَانِ فَأُقِرَّتْ صَلاَةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلاَةُ الْحَضَرِ. 

Dari Aisyah ra telah berkata: Sholat itu pada awwal difardhukannya adalah dua rokaat, lalu ditetapkan yang dua itu untuk sholat Safar dan disempurnakan untuk sholat hadhor

3.       Hadits Ibnu Abbas, riwayat Muslim: (SM:I: 308: 4,6) riwayat An-Nasai: SN: II: 3: 118/1190 Yaitu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ اللهُ الصَّلاَةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ B فِى الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَ فِى السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَ فِى الْخَوْفِ رَكْعَةً.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Allah SWT telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabimu saw didalam hadhor 4 rokaat dan didalam Safar dua rokaat dan didalam Khauf 1 rokaat.

4.       Hadits Umar riwayat Nasai (SN: II: 3: 118) yaitu:

عَنْ عُمَرَ قَالَ: صَلاَةُ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَانِ وَالْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَ النَّحْرِ رَكْعَتَانِ وَالشَّفَرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ النَّبِيَّ B 

Dari Umar telah berkata: Sholat Jum’at dua rokaat, sholat Idul Fithri dua rokaat, Idul Adha dua rokaat dan sholat Safar dua rokaat yaitu sempurna bukan Qoshor melalui lisan Nabi B.

5.       Hadits dari Ibnu Umar riwayat Nasai menjelaskan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:أَنَّ رَسُولَ اللهِ B أَتَانَا وَ نَحْنُ ضَلاَلٌ فَعَلَّمَنَا فَكَانَ فِيْمَا عَلَّمَنَا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنَا أَنْ نُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ فِى السَّفَرِ (رواه النسائ)

Dari Ibnu Umar telah berkata: Sesungguhnya Rosulullah B pernah mendatangi kami, sedang kami dalam keadaan tersesat (jalan), lalu beliau mengajari kami dan diantara yang diajarkan kepada kami, bahwa Allah Azza wajalla memerintahkan kami sholat dua rokaat didalam Safar. Hr. Nasai.

Itulah beberapa alasan golongan yang mengatakan, bahwa Qoshor itu wajib bukan rukhshoh.

Penjelasan.

1. Sholat Qoshor itu berdasarkan hadits-hadits yang Istbat, sudah diwajibkan sejak pertama dua rokaat, bukan dari tamam (4 rokaat atau 3 rokaat) menjadi dua rokaat.

2. Mengingat tindakan Rosulullah B setiap Safar yang sudah memenuhi syarat Qoshor, beliau tidak pernah sholat dengan tamam, beliau selalu melaksanakan dengan Qoshor.

3.Untuk itu sholat Qoshor bukan tindakan pilihan/boleh memilih atau rukhshoh, tetapi suatu kewajiban, karena Rosulullah B melakukan secara Istimror (terus menerus) jika Safar.

Golongan yang berpendapat bahwa Qoshor itu rukhshoh mereka beralasan:

Pertama:

Qs: 4: 101 (artinya) Maka tidaklah dosa bagimu mengqoshor sholat.

Tidak adanya dosa ini tidak menunjukkan kepada kewajiban, tetapi lebih mengarah kepada rukhshoh.

Kedua:

Di dalam hadits (SM: I: 307: 4) (SN: II: 3: 116) dan (SAD: I: 281: 1199) Nabi saw bersabda……Itulah shodaqoh yang diberikan Allah kepadamu, maka terima shodaqqoh-Nya itu.

Menurut zhohir ucapan beliau: Shodaqoh, maka Qoshor itu hanya merupakan rukhshoh bukan wajjib.

Ketiga:

Apa yang ada dalam shohih Muslim, bahwa para shohabat pernah safar bersama Rosulullah B. Diantara mereka ada yang mengqoshor sholat dan diantara mereka ada yang mengerjakan secara tamam. Diantara mereka ada yang shaum dan diantara mereka ada yang tidak shaum, sebagian tidak mencela sebagian yang lain.

Keempat:

Hadits Aisyah ra:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا قَالَتْ:خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيَّ B فِى غُمْرَةِ رَمَضَانَ فَأُفْطِرُ وَصُمْتُ فَقُلْتُ بِأَبِي وَ أُمِّيْ: أَفْطَرْتُ وَصُمْتُ وَقَصَرْتُ وَأَتْمَمْتُ فَقَالَ:أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ (رواه الدا رقطنى)

Dari Aisyah ra telah berkata: Aku pernah keluar bersama Nabi B dalam Umroh dibulan Romadhon. Kemudian aku berbuka dan aku berpuasa. Maka aku berkata demi ayah dan ibuku: Aku pernah berbuka dan pernah berpuasa, dan aku pernah mengqoshor dan aku juga sholat tamam. Maka beliau bersabda: Itu baik wahai Aisyah. Hr Daruquthni.

Komentar

1.       Pada alasan ketiga: Tidak terdapat didalam shohih Muslim yang menyebutkan: (diantara mereka ada yang mengerjakan sholat diantara mereka ada yang mengerjakan dengan tamam) yang ada adalah (diantara mereka ada yang shaum dan diantara mereka ada yang tidak shaum dan sebagian tidak mencela kepada sebagian yang lain)

2.       Alasan keempat: Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Imam Nasai dan Baihaqy. Didalam sanad hadits tersebut ada rowi yang bernama Al-Ala bin Zuhair. Kata Ibnu Itiban, Al-Ala bin Zuhair meriwayatkan dari orang-orang tsiqot, tetapi tidak menyerupai dengan hadits Itsbat, maka berhujjah dengan haditsnya adalah bathil, karena tidak sesuai dengan hadits Itsbat.

3.       Kemudian juga rowi Abdurohman, kata:

         -Ad-Daruquthny ia bertemu dengan Aisyah, ketika remaja.

         -Abu Hatim ia bertemu dengan Aisyah masih kecil.

           Namun tidak pernah mendengar hadits dari Aisyah.

-Abu Bakar An-Naisabury: Siapa saja yang berpendapat tentang hadits ini   dari   Aisyah, maka dia adalah salah

4.       Maka yang berpendapat bahwa Qoshor adalah rukhshoh tidak kuat.

5.       Sebagai kesimpulan, bahwa: Qoshor dalam Safar adalah wajib, karena tidak satupun hadits yang menceritakan tentang Rosulullah B sholat tamam didalam Safar.

Fashal 8 

Orang yang muqim disuatu tempat untuk suatu urusan, tetapi tidak ada niat untuk muqim

 

1.    عَنْ جابِرٍ قَالَ: أَقَامَ النَّبِيُّ B بِتَبُوْكَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلاَةَ (رواه أحمد وأبو داود)

Dari Jabir telah berkata: Nabi B mukim di Tabuk selama 20 hari, beliau mengqoshor sholat. Hr Imam Ahmad dan Abu Daud.

2.      عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ B وَشَهِدْتُ مَعَهُ الْفَتْحَ فَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ لَيْلَةً لاَ يُصَلِّى إِلأَ رَكْعَتَيْنِ يَقُوْلُ: يَاأَهْلَ الْبَلْدَةِ صَلُّوا أَرْبَعًا فَأ نَا سَفَرٌ (رواه ابو داود)    

Dari Imron bin Hushain telah berkata: Aku pernah berperang bersama Nabi B dan aku juga mneyaksikan langsung penaklukan (Makkah) bersama beliau, lalu beliau menetap di Makkah selama 18 hari/malam. Beliau tidak pernah sholat (tamam) kecuali dua rokaat. Beliau bersabda: Hai penduduk Makkah ! Sholatlah kamu 4 rokaat, karena aku adalah dalam keadaan Safar. Hr Abu Daud.

3.  عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا فَتَحَ النَّبِيُّ B مَكَّةَ أَقَامَ فِيْهَا تِسْعَ عَشْرَةَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ قَالَ: فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا فَأَقَمْنَا تِسْعَ عَشْرَةَ قَصَرْنَا وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا رواه أحمد البخارى وابن ماجه   ورواه أبو داود:وَلَكِنَّهُ قَالَ: سَبْعَ عَشْرَةَ وَ قَالَ: قَالَ عُبَّادُ بْنُ مَنْصُوْرٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَقَامَ تِسْعَ عَشْرَةَ

                                                                    

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Tatkala beliau /Nabi B menaklukan Makkah, beliau mukim disana selama 19 hari, beliau sholat dua rokaat. Dia (Ibnu Abbas) berkata: Apabila kami Safar lalu mukim selama 19 hari. Maka kami mengqoshor sholat, dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan sholat (Hr. Ahmad, Al-Bukhory dan Ibnu Majah)

Abu Daud meriwayatkan: Tetapi dia berkata: Tujuh belas hari. Ia berkata: Ubad bin Manshur berkata: Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas: Beliau mukim disana sembilan belas hari.

Penjelasan

1.      Yang menjadi prinsip untuk mengqoshor sholat didalam Safar itu niat mukim. Jika seorang tidak ada niat menetap/mukim dinegeri orang, maka dia wajib Qoshor. Tetapi jika dia berniat untuk menetap, maka wajib tamam

2.       Jumlah lamanya seseorang menetap, tidak menjadi prinsip

 Fashal 9

Orang yang lewat lalu menikah didaerah itu/ mempunyai isteri, maka wajib tamam sholat

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ صَلَّى بِمِنًى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَأَنْكَرَ النَّاسُ عَلَيْهِ فَقَالَ: يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى تَأَهَّلْتُ بِمَكَّةَ مُنْذُ قَدِمْتُ وَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ B يَقُوْلُ: مَنْ تَأَهَّلَ فِى بَلَدٍ فَلْيُصَلِّ صَلاَةَ الْمُقِيْمِ (رواه أحمد)

Dari Utsman bin Affan: Sesungguhnya dia pernah sholat di Mina empat rokaat, kemudian orang-orang mengingkarinya, lalu dia berkata: Hai manusia sesungguhnya aku sudah menjadi penduduk Makkah sejak aku datang disini, dan aku pernah mendengar Rosulullah B berkata: Siapa saja menjadi penduduk disuatu daerah, maka sholatlah sebagaimana sholatnya orang mukim. Hr. Ahmad.

Keterangan

1.       Hadits tersebut dikeluarkan juga oleh Al-Baihaqy, tetapi dianggap cacat, karena ada yang terputus. Dalam sanadnya ada Ikrimah bin Ibrohim, dia adalah Dhoif.

2.       Jika seseorang sudah berkeluarga, maka orang tersebut sudah menjadi penduduk negeri itu, maka orang tersebut tidak disebut Safar lagi, tetapi sudah mukim, maka wajib tamam sholatnya, seperti yang dilakukan Utsman di Mina setelah dia menjadi Kholifah pertengahannya (lihat SB: I: 2: 35 atau di bab ini juga)

Fashal 10

Orang yang berangkat untuk ibadah haji mengqoshor sholat

JSH: 2: 29: 543

عَنْ أَبِى نَضْرَةَ قَالَ:سُئِلَ عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ عَنْ صَلاَةِ الْمُسَافِرِ فَقَالَ:حَجَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ B فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ  وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِى بَكْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَ مَعَ عُمَرَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَ مَعَ عُثْمَانَ سِتَّ سِنِيْنَ مِنْ خِلاَ فَتِهِ أَوْ ثَمَانِ سِنِيْنَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ.

Dari Abu Nadhroh, ia berkata: Imron bin Hushain ditanya tentang sholat musafir, maka ia menjawab: Aku pernah ibadah haji bersama Rosulullah B maka beliau sholat dua rokaat, dan aku juga pernah ibadah haji bersama Abu Bakar, maka iapun sholat dua rokaat dan bersama Umar, maka iapun sholat dua rokaat, dan bersama Utsman selama 6 tahun atau 8 tahun dari kekholifahannya, maka iapun sholat dua rokaat.

Keterangan

1.       Dalam rangka ibadah haji yang dianggap jaraknya sudah memenuhi syarat Qoshor, maka wajib mengqoshor sholat, seperti yang dilakukan Rosulullah B, Abu Bakar, Umar dan juga Utsman.

2.       Kecuali penduduk yang bertempat tinggal dilingkungan Makah, maka mereka wajib tamam.

Fashal 11

Musafir Wajib Qoshor Berma’mum Dengan Muqimin dan Sebaliknya

 

I. Musafir wajib Qoshor bermam’mum kepada Muqimin

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ سُئِلَ مَابَالُ الْمُسَافِرِ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِى إِذَا انْفَرَدَ وَأَرْبَعًا إِذَا ائْتَمَّ بِمُقِيْمِ ؟ فَقَالَ: تِلْكَ السُّنَّةُ وَ لَفْظٍ: أَنَّهُ قَالَ لَهُ مُوْسَى بْنُ سَلَمَةَ إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَيْنَا أَرْبَعًا وَإِذَا رَجَعْنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِى الْقَاسِمِ B (رواه أحمد)

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ia ditanya, bagaimana halnya musafir sholat dua rokaat apabila dia sendirian dan empat rokaat apabila ia mengikuti (imam) yang muqim? Maka ia menjawab: itu adalah (sesuai) Sunnah Nabi B.

Dan didalam satu lafazh: Sesungguhnya Musa bin Salamah bertanya kepadanya: Sesungguhnya kami apabila bersama kamu sekalian, sholat empat rokaat dan apabila kami pulang (di tempat pondokan) kami sholat dua rokaat. Maka ia menjawab itu adalah menurut sunnah, Abul-Qosim (Nabi B) Hr. Ahmad.

Keterangan

Menurut hadits diatas dijelaskan tentang cara sholat bagi Musafir yang sudah wajib Qoshor adalah:

1.      Apabila Musafir berma’mum kepada Muqimin (imam setempat) maka ia harus mengikuti imam (yaitu tamam)

2.      Apabila Musafir sholat sendirian, maka Ia wajib mengqoshor yaitu dua rokaat

3.      Apabila berjamaah sesama Musafir yang sama-sama Qoshor, maka harus di qoshor, yaitu dua rokaat.

II. Muqimin berma’mum kepada Musafir wajib Qoshor

A. NA: III: 382

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: مَاسَافَرَ رَسُوْلُ اللهِ B سَفَرًا إِلاَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنَ حَتَّى يَرْجِعَ وَإِنَّهُ أَقَامَ بِمَكَّةَ زَمَنَ الْفَتْحِ ثَمَانَ عَشَرَةَ لَيْلَةً يُصَلِّى بِالنَّاسِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلاَّ الْمَغْرِبَ ثُمَّ يَقُوْلُ: يَاأَهْلَ مَكَّةَ قُوْمُوْا فَصَلُّوْا رَكْعَتَيْنِ أَخْرَيَيْنِ فَإِنَّا قَوْمٌ سَفَرٌ (رواه أحمد) 

Dari Imron bin Hushain, ia berkata: Tidak pernah Rasulullah B bepergian sekalipun, kecuali beliau selalu sholat dua rokaat sampai beliau pulang. Dan sesungguhnya beliau tinggal di Makkah selama 18 malam pada masa penaklukan, beliau sholat bersama para shohabat dua rokaat dua rokaat, kecuali Magrib, kemudian beliau berkata: Hai penduduk Makkah, berdirilah kalian, lalu sholatlah kalian dua rokaat lagi, karena kami ini adalah orang-orang yang sedang safar. Hr. Ahmad

Keterangan

1.      Hadits Imron bin Hushain diatas diriwayatkan juga oleh Turmudzy dan dia menganggap hasan, juga oleh Baihaqy

2.      Didalam isnadnya ada nama Ali bin Zaid bin Jad’an dia adalah rowi Dhoif (NA: III: 383)

3.      Jadi hadits Imron ini tidak bisa dijadikan hujjah.

B. NA: III: 382

عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَدِمَ مَكَّةَ صَلَّى بِهمْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ: يَأأَهْلَ مَكَّةَ أَتِمُّوْا صَلاَتَكُمْ فِإِنَّا قَوْمٌ سَفَرٌ (رواه مالك)

Dari Umar, sesungguhnya ketika datang ke Makkah dia sholat bersama mereka dua rokaat, kemudian dia berkata: Wahai penduduk Makkah sempurnakanlah sholat kalian, karena kami adalah kaum yang safar. Hr. Malik

Keterangan 

1.      Atsar Umar ini adalah sanadnya para imam yang kuat

2.      Pada dasarnya Muqimin shah hukumnya berma’mum kepada Musafir, hanya saja si muqim harus sholat tamam, maksudnya ketika imam yang safar tadi salam, maka Muqimin wajib menambah sisa rokaat yang belum selesai.

Fashal 12

 

Sholat jama

A. Pengertian Jama.

 Jama menururt bahasa adalah isim mashdar dari

kata جمعا-يجمع-جمع artinya menggabung atau mengumpulkan.

Jama menurut istilah ialah: 

Menggabung atau mengumpulkan beberapa sholat yang tertinggal karena udzur syar’i dikerjakan didalam satu waktu.

Dasar hukumnya

Dasar hukum pengambilan definisi ini ialah:

1.SAD: I: 281: 1206 

عَنْ أَبِى الطُّفَيْلِ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُمْ: أَنَّهُمْ خَرَجُوْا مَعَ رَسُولِ اللهِ B فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ  فَكَانَ رَسُولُ اللهِ B يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَ الْمَغْرِبِ وَ الْعِشَاءِ فَأَ خَّرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا….الحديث

Dari Abi Thufail bin Watsilah: Dari Muadz bin Jabal telah menceritakan kepada mereka: Bahwa sesungguhnya mereka telah pergi bersama Rosulullah B pada waktu perang Tabuk, maka Rosulullah B menjama antara sholat Zhuhur, Ashor. Maghrib dan Isya didalam satu hari, beliau akhirkan sholat.

2. SAD: I: 283: 1211

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَمَعَ رَسُولُ اللهِ B بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِيْنَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ فَقِيْلَ لاِ بْنِ عَبَّاسٍ: مَاأَرَادَ إِلَى ذ’لِكَ قَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B telah menjama antara sholat Zhuhur dan Ashor dan Maghrib dan Isya dan Shubuh di Madinah tanpa dalam rasa takut dan tidak hujan, maka ditanyakan kepada Ibnu Abbas: Apakah maksud hal itu ? Ia menjawab: Ingin agar tidak memberatkan ummatnya.

Keterangan. 

1.       Dua hadits tersebut menjelaskan bahwa menjama sholat itu tidak terpaku/terikat hanya Zhuhur dan Ashor, atau Maghrib dan Isya.

2.       Jelasnya, jika karena adanya udzur sayr’i, kita diperbolehkan menjama sholat dari Zhuhur dan Ashor atau Maghrib dan Isya.

3.       Mengenai dari Zhuhur dengan Ashor atau Maghrib dengan Isya itu hanya contoh saja atau isyarat saja, prakteknya silahkan lihat SAD: I: 281: 1206 dan SAD: I: 283: 1211.

B. Macam-macam Jama.

Jama ada dua macam:

1.       Jama Taqdim

2.       Jama Ta’khir

Jama Taqdim

 

Jama Taqdim ialah jama yang cara mengerjakannya dimajukan, maksudnya, sholat yang dikerjakan dimajukan sebelum datang perintah.

Misalnya: Sholat Ashor dikerjakan diwaktu Zhuhur

                 Sholat Isya dikerjakan diwaktu Maghrib.

Dasar pengambilan dalil Jama Taqdim

 

SAD: I: 285: 1220/ AM: IV: 87: 1208

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بِنُ سَعِيْدٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عِنْ يَزِيْدَ بْنِ أَبِى حَبِيْبٍ عَنْ أَبِى الطُّفَيْلِ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ: أَنَّ النَّبِيَّ B كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ إِذَاارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيْهِمَا جَمِيْعًا وَ إِذَا ارْتَحَل َ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ صَلَّى الظّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا ثُمَّ سَارَ وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى  يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَ إِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلاَّ هَا مَعَ الْمَغْرِبِ

Bercerita kepada kami Qutaibah bin Said. Mengkhobarkan kepada kami Al-Laits. Dari Yazid bin Abi Habib dari Abu Thufail Amir bin Watsilah dari Muadz bin Jabal: Sesungguhnya Nabi saw berada dipeperangan Tabuk. Apabila beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, belum mengakhirkan sholat Zhuhur, sehingga menjamanya dengan sholat Ashor, lalu beliau sholat keduanya dengan menjamanya. Dan apabila beliau berangkat sesudah matahari tergelincir, beliau sholat Zhuhur dan Ashor dengan menjama (taqdim) lalu beliau berangkat. Dan apabila beliau berangkat sebelum Maghrib, beliau akhirkan Maghrib, sehingga beliau sholat Maghrib bersama Isya. Dan apa bila beliau berangkat sesudah Maghrib, beliau percepat Isya. Lalu sholat Isya bersama Maghrib.

Komentar.

1.       Abu Daud berkata: وَلَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيْثَ إِلأَ قُتَيْبَةُ وَحْدَهُ 

Dan tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Qutaibah seorang (SAD: I: 285 dan AM: IV: 88)

2.       Turmudzy berkata:

وحديث معاذ حسن غريب تفرّدبه قتيبة لا نعوف أحدا رواه عن الليث غيره

 Hadits Muadz adalah Hasan Ghorib, Qutaibah sendirian meriwayatkannya. Kami   tidak mengetahui seorangpun merawikan dari Laits hadits ini selain Qutaibah (AM: IV: 88) 

3.       Al-Hakim Abu Abdillah menjelaskan:

أن الحديث موضوع و قتيبة بن سعيد ثقة مأمون

Sesungguhnya hadits itu palsu walaupun Qutaibah bin Said dapat dipercaya dan tsiqoh (AM: IV: 88)

4.       Hadits mengenai Jama Taqdim ini masih banyak yang mengomentarinya. Tetapi sebagai kesimpulan disebutkan didalam Al-Badrul Munir, bahwa hadits tersebut ada 5 pendapat (lihat AM: IV: 88)

a)       Hadits itu kedudukannya Hasan Ghorib. Kata Turmudzy

b)       Hadits itu kedudukannya Mahfuzh shohih. Kata Ibnu Hibban.

c)       Hadits itu kedudukannya Munkar. Kata Abu Daud.

d)       Hadits itu kedudukannya Munqothi. Kata Ibnu Hazm.

e)       Hadits itu kedudukannya Maudhu. Kata Hakim.

قال فى البدر المنمير: إنّ للحفاظ فى هذا الحديث خمسة أقوال أحدها أنه حسن غريب قاله الترمذى ثا نيها أنه محفوظ صحيح قاله ابن حبان ثالثها منكر قاله ابوداود رابعها أنه منقطع قاله ابن حزم خامسها أنّه موضوع قاله الحاكم.

Inilah kedudukan hadits Jama Taqdim yang menguatkan 2 Imam dan melemahkan 3 Imam.

Keterangan. 

1.       Karena kedudukan hadits Jama Taqdim bermasalah dua imam (Turmudzy dan Ibnu Hibban) dengan menilai Hasan dan Mahfudz yaitu mendukung dan tiga imam (Abu Daud, Ibnu Hazem dan Hakim) dengan menilai Hadits “Munkar, Munqothi dan Maudhu” yang notabene menolak, maka kita juga harus berpegang pada disiplin ilmu hadits

yaitu: جرخ مقذم على التعديل    (Jarh atau cacat harus dikedepankan diatas Ta’dil) maka hadits tersebut tidak bisa diamalkan.

2.       Oleh karena hadits Jama Taqdim tersebut banyak masalah, maka Jama Taqdim dianggap tidak ada.

3.       Hadits Jama Taqdim itu Dhoif (lemah).

4.       Karena juga tidak memenuhi persyaratan syarat shah sholat, yaitu antaranya masuk waktu, sedangkan Jama Taqdim belum waktunya atau belum ada perintah sudah dikerjakan. Dengan bahasa sederhana: Belum berhutang telah membayar, maka Jama Taqdim adalah bid’ah.

5.       Jelasnya lagi Rosulullah B tidak pernah melakukan Jama Taqdim.

Fashal 13 

Jama Ta’khir

 

Jama Ta’khir ialah:

Menggabung atau mengumpulkan beberapa waktu sholat yang tertinggal karena udzur syar’i dan dikerjakan didalam satu waktu, misalnya:

-Sholat Zhuhur dikerjakan diwaktu Ashor

-Sholat Maghrib dikerjakan diwaktu Isya.

-Sholat Isya dikerjakan diwaktu Shubuh.

Dasar-dasar hukumnya

1. SB: I: 2: 39 

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا اَرْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَىوَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَ إِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

 

Dari Anas bin Malik telah berkata: Adalah Rosululah B apabila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan sholat Zhuhur ke waktu Ashor. Kemudian Jama antara keduanya (Zhuhur dan Ashor). Dan apabila matahari sudah tergelincir, maka beliau sholat Zhuhur lalu berangkat.

2. SB: I: 2: 40

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا ارْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rosulullah B apabila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan sholat Zhuhur ke waktu Ashor, kemudian beliau berhenti lalu menjama keduanya. Apabila matahari sudah tergelincir sebelum keberangkatan, maka beliau sholat Zhuhur (terlebih dahulu) kemudian berangkat.

3. SM: I: 314: 46

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا اَرْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّرَ إِلَىوَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

Dari Anas bin Malik,ia berkata adalah Rosulullah B apabila berangakat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan sholat Zhuhur ke waktu Ashor, kemudian beliau berhenti lalu menjama antara keduanya. Maka jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau berangkat maka beliau sholat Zhuhur dahulu baru berangkat

4. SM: I: 314: 47

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ B إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلاَ تَيْنِ فِى السَّفَرِ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا.

Dari Anas telah berkata: Adalah Nabi B apabila ingin menjama antara dua sholat didalam Safar, beliau akhirkan Zhuhur sampai masuk awal waktu Ashor. Kemudian baliau menjama keduanya.

5. SM: I: 314: 48

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيَّ B إِذَا عَجِلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ يُؤَخِرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حِيْنَ يَغِيْبُ الشَّفَقُ

Dari Anas, dari Nabi B apabila beliau tergesa-gesa atas keberangkatan, beliau akhirkan Zhuhur ke awal waktu Ashor, lalu beliau menjama antara keduanya, dan beliau akhirkan Maghrib sampai beliau kumpulkan antara Maghrib dan antara Isya, ketika awan merah hilang. 

6. SAD: I: 281: 1206

عَنْ أَبِى الطُّفَيْلِ عَامِرِ ابْنِ وَاثِلَةَ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُمْ: أَنَّهُمْ خَرَجُوْا مَعَ رَسُولِ اللهِ B فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَكَانَ رَسُولُ اللهِ B يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فَأَخَّرَ الصَلاَةَ يَوْمًا ثُمَّ خَرَجَ فَصَلََّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى المَغِرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا 

Dari Abu Thufail, Amir bin Watsilah bahwa Muadz bin Jabal telah menceritakan kepada mereka: Bahwa mereka pernah keluar bersama Rosulullah B pada perang Tabuk. Maka adalah Rosulullah B menjama antara Zhuhur dan Ashor dan Maghrib dan Isya maka beliau akhirkan sholat pada sehari. Kemudian beliau keluar lalu sholat Zhuhur dan Ashor bersama, kemudian beliau masuk, lalu keluar lagi, maka beliau sholat Maghrib dan Isya dengan Jama.

7. SAD: I: 281: 1208

عَنْ مُعَاذِ بْنِ خَبَلٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ B كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْ تَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ وَفِىالْمَغْرِبِ مِثْلَ ذاَلِكَ إِنْ نَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَ إِنْ يَرْ تَحِلْ قَبْْلَ أَنْ تَغِيْبَ الشَّمْسُ أَخََّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا.

Dari Muadz bin Jabal: Sesungguhnya Rosulullah B ada di perang Tabuk, apabila matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat, beliau jama antara sholat Zhuhur dan sholat Ashor, dan jika beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan sholat Zhuhur sampai turun untuk sholat Ashor, dan pada sholat Maghrib seperti itu. Apabila matahari telah terbenam sebelum beliau berangkat, beliau jama antara Maghrib dan Isya, dan jika berangkatnya sebelum matahari terbenam, beliau akhirkan Maghrib hingga beliau turun kemudian jama antara keduanya.

8. SAD: I: 284: 1218

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا ارْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقتِ الْعَصْرِ ثُمّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسلم. 

Dari Anas bin Malik telah berkata: Adalah Rosulullah B apabila beliau berangkat sebelum matahari tegelincir, beliau akhirkan sholat Zhuhur ke waktu Ashor. Kemudian beliau berhenti lalu menjama keduanya (Zhuhur dan Ashor). Maka jika matahari sudah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau sholat zhuhur dahulu kemudian berangkat Rosulullah B.

Keterangan

1. Hadits-hadits:

a.       SB: I: 2: 39

b.      SB: I: 2: 40

c.       SM: I: 314; 46.

d.      SM: I: 314: 47.

e.       SM: I: 314; 48

f.       SAD: I: 281: 1206

g.       SAD: I: 281: 1208

H   SAD: I: 284: 1218.

Menjelaskan bahwa, apabila berangkat sebelum datang waktu Zhuhur, maka Rosulullah B menjama sholat Zhuhur dengan sholat Ashor. Dan apabila berangkatnya sesudah waktu Zhuhur tiba, beliau sholat Zhuhur terlebih dahulu kemudian berangkat.

2.      Dengan hadits-hadits pula, Jama Taqdim ditiadakan, karena hadits jama taqdim kedudukannya Dhoif dan berlawanan dengan hadits-hadits Jama Ta’khir yang shohih.

3.       Dan didalam pelaksanaan jama juga tidak terikat antara Zhuhur dengan Ashor saja atau Maghrib dengan Isya saja, tapi bisa saja terjadi antara Ashor dan Maghrib atau Isya dan Shubuh atau Zhuhur Ashor, Maghrib, Isya dan Shubuh.

4.       Pada prinsipnya sholat apa saja yang tertinggal dan kita dalam udzur syar’i maka wajib dijama.

5.       Udzur syar;i ialah satu halangan yang tidak bisa untuk melaksanakan sholat, yang dibolehkan oleh syara. Tepat waktu.

Fashal 14

Sebab-sebab Jama

Sebab-sebab timbulnya jama ialah:

1.       Adanya udzur syar’i

2.       Keadaan sadar.

Udzur Syar’i

Udzur syar’i yang dimaksud ialah:

Suatu halangan yang menghalangi seseorang tidak bisa melaksanakan sholat tepat waktu.

Misalnya

Ketika waktu sholat tiba, seseorang sedang berada diatas kendaraan, yang tidak ada tempat untuk melaksanakan sholat, maka disinilah seseorang dibolehkan oleh syariat untuk menunda sholat, dan pelaksanaannya diwaktu berikutnya yang disebut Jama.

Keadaan sadar

Keadaan sadar yang dimaksud adalah:

Ketika waktu sholat tiba, seseorang dengan sadar sesadar-sadarnya atau tahu benar babhwa waktu sholat telah tiba, hanya saja ia tidak bisa melaksanakannya, maka disini pulalah disyariatkan untuk menjamanya. Maka orang yang dalam keadaan pingsan atau tertidur, maka tidak ada syariat untuk menjama sholat yang tertingal, karena tidur atau pingsan tadi.

Fashal 15

Syarat syarat Jama

Syarat shah jama adalah

1.       Safar.

2.       Niat.

Safar/ bepergian

Safar dimaksud ialah: Safar biasa, yang tidak membutuhkan syarat Qoshor, hanya ketika waktu sholat tiba, seseorang tidak bisa melaksanakannya.

Misalnya: Seseorang sedang berada dikendaraan.

Orang yang sedang ada dirumah atau dikantor, maka tidak shah melaksanakan Jama. Karena orang ini mempunyai waktu yang luas/kuasa untuk melaksanakan sholat tepat waktu, yakni tidak ada halangan.

Niat

 Niat yang dimaksud disini ialah: Niat Jama sholat, bukan niat sholat.

Orang yang tidur atau pingsan tidak shah menjama sholat yang tertinggal maka ia bangun atau ketika ia sadar dari pingsannya.

Dasar-dasar hukumnya.

1. SB: I: 2: 36

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ B إِذَا أََعْجَلَهُ السَّيْرُ فِى السَّفَرِ يُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَ بَيْنَ الْعِشَاءِ. 

Dari Abdullah bin Umar telah berkata: Aku pernah melihat Rosulullah B apabila bergegas dalam keberangkatan untuk Safar, beliau akhirkan sholat Maghrib sehingga beliau Jama antara Maghrib dan antara Isya

2. SB: I: 2: 39

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ B يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ إِذَا جَدَّبِهِ السَّيْرُ وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ  t قَالَ:كَانَ رَسُولُ اللهِ B يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَ يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Dari Salim, dari bapaknya telah berkata: Adalah Nabi B menjama antara Maghrib dan Isya apabila beliau bergegas dalam keberangkatan. Dan dari Ibnu Abbas ra telah berkata: Adalah Rosulullah B menjama antara sholat Zhuhur dan Ashor, apabila beliau berada diatas perjalanan dan menjama antara Maghrib dan Isya.

3.SB: I: 2: 39

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ t قَالَ:كَانَ النَّبِيُّ B يَجْمَعُ بَيْنَ  صَلاَةِ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِى السَّفَرِ.

 

Dari Anas bin Malik ra telah berkata: Ada Nabi B menjama sholat Maghrib dan Isya didalam Safar.

4. SB: I: 2: 39 

عَنِ حَفْصِ بْنِ عُبَيْدِاللهِ بْنِ أَنَسٍ أَنَّ أَنَسًا t حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ B كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ فِى السَّفَرِ يَعْنىِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ.

Dari Hafsh bin Ubaidillah bin Anas, bahwa Anas telah menceritakan kepadanya, sesungguhnya Rosulullah B menjama antara dua sholat didalam Safar yakni Maghrib dan Isya.

5. SB: I: 2: 39

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسًُولُ اللهِ B إِذَا ارْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الْظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

Dari Anas bin Malik telah berkata: Adalah Rosulullah B apabila berangkat sebelum matahari tergelincir beliau akhirkan zhuhur ke waktu Ashor, kemudian beliau menjama keduanya. Dan apabila matahari telah tergelincir beliau sholat Zhuhur terlebih dahulu kemudian berangkat.

6.SB: I: 2: 40

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا ارْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ. 

Dari Anas bin Malik telah berkata: Adalah Rosulullah B apabila berangkkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan sholat zhuhur ke waktu Ashor, kemudian beliau berhenti lalu menjama antara keduanya. Maka apabila matahari sudah tergelincir sebelum beliau berangkat, maka beliau sholat Zhuhur terlebih dahulu kemudian berangkat.

 7.SB: I: 2: 39

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ t قَالَ: رَاَيْتُ رَسُولَ اللهِ B إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرَ فِى السَّفَرِ يُؤَخِّرُ صَلاَةَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ 

Dari Abdullah bin Umar ra telah berkata: Aku pernah melihat Rosulullah B apabila bergegas dalam keberangkatan pada Safar, beliau akhirkan sholat Maghrib, hingga beliau menjama antaranya dan antara sholat Isya.

8. SM: I: 314: 42

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا عَجِلَ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

Dari Ibnu Umar telah berkata: Adalah Rosulullah B apabila terburu-buru dalam keberangkatan, beliau gabung antara Maghrib dan Isya.

9. SM: I: 314: 43

عَنْ عُبَيْدِالله قَالَ:أَخْبَرَنِى نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَدَّبِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بَعْدَ أَنْ يَغِيْبَ الشّفَقُ وَ يَقُولُ: إِنَّ  رَسُولَ اللهِ B كَانَ إِذَا جَدَّبِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

Dari Ubaidillah telah berkata: telah menceritakan kepadaku Nafi. Bahwa Ibnu Umar ada, apabila ia sunguh-sungguh dalam keberangkatan, ia jama antara sholat Maghrib dan sholat Isya setelah lenyap awan merah. Dan ia berkata: Sesungguhnya Rosulullah B adalah apabila bersungguh-sungguh dalam keberangkatan beliau jama antara Magrib dan sholat Isya.

10. SM: I: 314: 44

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ B يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ إِذَا جَدَّبِهِ السَّيْرُ.

Dari Salim dari bapaknya: Aku pernah melihat Rosulullah B menjama antara sholat Maghrib dan Isya apabila beliau tergesa-gesa dalam keberangkatan.

11. SM: I: 314: 45

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ أَنَّ أَبَاهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ B إِذَا أَعْجَلَهُ السَّيْرُ فِى السَّفَرِ يُؤَخِّرُ صَلاَةَ الْمَغْرِبِ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ.

Dari Ibnu Syihab telah berkata: Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdillah, bahwa bapaknya telah berkata: Aku pernah melihat Rosulullah B apabila beliau terburu-buru akan berangkat di dalam Safar, beliau akhirkan sholat Maghrib, hingga beliau jama antara Maghrib dan sholat Isya. Apabila beliau terburu-buru akan berangkat didalam Safar, beliau akhirkan sholat Maghrib, hingga beliau jama antara Maghrib dan sholat Isya.

12. SM: I: 314: 46

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ B إِذَا ارْ تَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الْشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْ تَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ 

Dari Anas bin Malik, telah berkata: Adalah Rosulullah B apabila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur ke waktu Ashor, kemudian beliau berhenti lalu menjama antara keduanya. Maka apabila matahari sudah tergelincir sebelum beliau berangkat beliau sholat Zhuhur terlebih dahulu, baru berangkat.

13. SM: I: 314: 47

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ B إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلاَ تَيْنِ فِى السَّفَرِ أَخَّرََ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا 

Dari Anas telah berkata; Adalah Nabi B apabila ingin menjama antara dua sholat didalam Safar, beliau akhirkan sholat Zhuhur sampai masuk awal waktu Ashor, kemudian beliau menjama keduanya

14. SM: I: 314: 48 

عَنْ اَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ B إِذَا عَجِلَ عَلَيْهِ السََّفَرُ يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حِيْنَ يَغِيْبُ الشَّفَقُ

Dari Anas dari Nabi B: Apabila beliau bergegas dalam Safar, beliau akhirkan sholat zhuhur ke awal waktu Ashor, lalu beliau menjama antara keduanya. Dan beliau mengakhirkan sholat Maghrib hingga beliau menjama antara keduanya/antara Maghrib dan antara Isya, ketika mega merah lenyap.

15.SAD: I: 281: 1206

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَخْبَرَ هُمْ: أَنَّهُمْ خَرَجُوا مَعَ رَسُولِ اللهِ B فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَكَانَ رَسُولُ اللهِ B يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فَأَخَّرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الْظُّهْرَ وَالعَصْرَ جَمِيْعًا ثُمَّ دَخَلَ فَصَلَّى ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا

Dari Muadz bin Jabal telah menceritakan kepada mereka; Bahwa mereka pernah keluar bersama Rosulullah B diwaktu perang Tabuk. Maka adalah Rosulullah B menjama antara Zhuhur dan Ashor dan Maghrib dan Isya, maka beliau akhirkan sholat itu pada satu hari. Kemudian juga beliau keluar lalu sholat Zhuhur dan Ashor dengan Jama. Kemudian beliau masuk lalu kelaur maka beliau sholat Maghrib dan Isya dengan menjama.

 

Keterangan

1.       Sebab-sebab timbulnya sholat Jama pada hadits-hadits diatas adalah adanya Safar/bepergian.

2.       Kata Safar pada hadits-hadits itu juga bermacam-macam ada yang memakai Safar itu sendiri ada

 juga.سَيْرٌ-خَرَجَ -اِرْتَحَلَ

3.       Juga harus ada niat sebelumnya, maka orang yang tertidur mulai dari sebelum Zhuhur, misalnya dari bangun waktu Maghrib, maka tidak ada Jama baginya, maksudnya, tidak shah, karena tidak niat untuk menjama sebelumya

Fashal 16

Menjama sholat diwaktu muqim

1.SM: I: 315: 49

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: صَلَّى رَسُولُ اللهِ B الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B sholat Zhuhur dan Ashor secara jama/bersamaan dan Maghrib dan Isya secara jama dalam keadaan tidak takut dan tidak Safar 

2. SM:I :315: 50

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:صَلَّى رَسُولُ اللهِ B الْظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا بِالْمَدِيْنَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ سَفَرٍ قَالَ أَبُوالزُّبَيْرِ:فَسَأَلْتُ سَعِيْدًا: لِمَ فَعَلَ ذ’لِكَ ؟ فَقَالَ: سَأَلْتُ ابْنُ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِى فَقَالَ:أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ. 

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B sholat Zhuhur dan Ashor dengan menjama di Madinah dalam keadaan tidak takut dan tidak Safar. Abu Zubair berkata: Lalu aku tanyakan kepada Said: Mengapa beliau lakukan demikian ? Maka ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana yang engkau tanyakan. Maka ia menjawab: Beliau ingin agar tidak memberatkan seseorang dari ummat-nya.

3. SM: I: 315: 51

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ B جَمَعَ بَيْنَ الصَّلاَةِ فِى سَفْرَةٍ سَافَرَ هَا فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ قَالَ سَعِيْدٌ فَقُلْتُ لاِ بْنِ عَبَّاسٍ: مَا حَمَلَهُ عَلَى ذاَلِكَ؟ قَالَ: أَرَأدَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rosulullah B pernah menjama sholat didalam Safar yang beliau Safar padanya, diperang Tabuk. Maka beliau menjama antara shoalt Zhuhur dan sholat Ashor dan sholat Maghrib dan Isya. Said berkata: Lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Apakah bisa dipertanggung jawabkan hal tersebut? Ia menjawab: Ingin agar tidak memberatkan ummatnya.

4. SM: I: 315: 52 

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ:خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ B فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ فَكَانَ يُصَلِّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيْعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيْعًا.

Dari Muadz telah berkata: Kami pernah keluar bersama Rosulullah B diperang Tabuk. Maka ada beliau sholat Zhuhur dan Ashor dengan Jama. Dan Maghrib dan Isya dengan Jama.

5. SM: I: 315: 53 

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: جَمَعَ رَسُولُ اللهِ B فِى غَزْوَةِ تَبُوْكَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَاْلعِشَاءِ قَالَ: فَقُلْتُ: مَاحَمَلَهُ عَلَى

ذ’لِكَ ؟ قَالَ: فَقَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ.

Dari Muadz telah berkata: Rosulullah B telah menjama waktu di Tabuk antara Zhuhur dan Ashor dan antara Maghrib dan Isya. Ia berkata: Lalu aku bertanya: Apa yang menyebabkan hal itu? Ia berkata: Kemudian ia menjawab: Ingin agar tidak memberatkan ummatnya.

6. SM: I: 315: 54

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:جَمَعَ رَسُولُ اللهِ B بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِيْنَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ.

Dari Ibnu Abbas telah berkata: Rosulullah B telah menjama antara sholat zhuhur dan Ashor dan Maghrib dan Isya di Madinah dalam tidak takut dan tidak hujan.

(وَفِى حَدِيْثِ وَكِيْعٍ) قَالَ: قُلْتُ لاِ بْنِ عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذ’لِكَ ؟ قَالَ: كَيْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ وَفِىحَدِيْثِ مُعَاوِيَةَ قِِيْلَ لاِ بْنِ عَبَّاسٍ: مَا أَرَادَ إِلَى ذَالِكَ؟ قَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ.

(Dan didalam hadits Waki) Ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas Mengapa beliau lakukan demikian ? Ia menjawab: Agar tidak memberatkan ummatnya. Dan dalam hadits Abi Muawiyah, di tanyakan kepada Ibnu Abbas: Apa yang dikehendaki demikian itu ? Ia menjawab: Hendak agar tidak memberatkan ummatnya.

Keterangan

1.       Hadits-hadits tentang menjama sholat dalam keadaan tidak takut, tidak Safar atau tidak hujan menimbulkan banyak perdebatan para jumhur, antara lain:

·        Ada yang mengatakan Jama yang tidak sesungguhnya.

·        Ada juga yang mengatakan, mengakhirkan zhuhur dan memajukan Ashor atau mengakhirkan Maghrib dan memajukan Isya.

·        Dan lain-lain

2.       Pada dasarnya, timbulnya Jama karena adanya udzur syar’i yaitu untuk melaksanakan sholat tepat waktu, tidak bisa, maka syariat membolehkan Jama.

3.       Apabila Rosulullah B melakukan sholat Jama tanpa udzur syar’i. Sepertinya sangat tidak mungkin karena akan berlawanan dengan hadits-hadits Qouliyah yaitu: misalnya.

·        Amal apakah yang paling utama. Kata beliau: Sholat pada waktunya atau sholat diawal waktu.

·        Atau dengan Qs: 4: 142. (artinya) Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah, padahal (kalau mau menipu) Allah yang (paling pintar) menipu mereka. Apabila mereka hendak berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas, bahkan mereka riya kepada manusia dan mereka tidak ingat kepada Allah kecuali sedikit.

4.      Apa tidak dikatakan munafik yang sengaja mengakhirkan sholat tanpa udzur syar’i ?

5.      Oleh karena itu hadits-hadits tersebut bertolak belakang dengan hadits yang Itsbat dan dengan Al-Quran tadi. Untuk itu hadits diatas dapat dikatakan hadits shohih tetapi tidak bisa diamalkan (غيرمعمول به)

6.      Andaikatapun terjadi, semua itu dituduh yaitu medan perang, hanya sedikit saja hadits yang bercerita dalam keadaan tidak takut

Fashal 17 

Sholat Jama dengan sekali adzan dan beberapa kali iqomah.

 

1.  عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ B صَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِالْمُزْدَلِفَةِ جَمِيْعًا كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِاْلإِقَامَةِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا وَلاَ عَلَى أَثَرٍ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا 

Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Nabi B sholat Maghrib dan Isya dijama di Muzdalifah, masing-masing sholat dengan satu iqomah. Dan tidak ada sholat sunnah antara keduanya dan tidak ada wirid (bacaan dzikir) diantara keduanya. Hr Bukhory dan Nasai. NA: 3; 508/509.

2.  عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ B صَلَّىَ الصَّلاَ تَيْنِ بِعَرَفَةَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَأَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإَقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ 

Dari Jabir: Sesungguhnya Nabi B pernah sholat dua sholat (Jama) di Arofah dengan sekali adzan dan dua kali iqomah. Dan datang di Muzdalifah, maka beliau sholat Maghrib dan Isya disana dengan sekali adzan dan dua kali iqomah, dan tidak sholat sunnah diantara keduanya, kemudian beliau tidur sampai Shubuh (terbit fajar) Hr. ringkasan dari riwayat Imam Ahmad, Muslim dan Nasai. NA: 3/509).

3.     عَنْ أُسَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ B لَمَّا جَاءَ الْمَزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أُقِيْمَتِ الصَّلاَةَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيْرَهُ فِى مَنْزِلِهِ ثُمَّ أُقِيْمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلاَّ هَا وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا  (متفق عليه) وَ فِى  لَفْظٍ: رَكِبَ حَتَّى جِئْنَا الْمُزْدَلِفَةَ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاجَ النَّاسُ فَيُحَلُّوا حَتَّى أَقَامَ الْعِشَاءَ اْلأَ خِرَةَ فَصَلَّى ثُمَّ حَلُّوا (رواه احمد ومسلم) وَ فِى لَفْظٍ: أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلُّوا المَغْرِبَ ثُمَّ حَلُّوا رِحَالَهُمْ وَأَعَنْتُهُ ثُمَّ صَلَّى الْعِشَاءَ (رواه أحمد)

Dari Usamah, sesungguhnya Nabi B tatkala datang di Muzdalifah, beliau berhenti lalu turun untuk berwudhu dan beliau menyempurnakan wudhunya, kemudian qomat untuk sholat, lalu sholat Maghrib, lalu setiap orang mengikatkan untanya ditempatnya. Kemudian membaca iqomah untuk sholat Isya, dan beliau tidak sholat apapun diantara keduanya. (Mutafaq Alaih). Dan dalam satu lafadz: Beliau naik kendaraan sampai kami datang di Muzdalifah, lalu membaca iqomah untuk sholat Maghrib. Kemudian orang-orang menghentikan tumpangannya ditempat mereka masing-masing, tetapi mereka tidak melepaskan (tumpangannya) sampai membaca iqomah untuk sholat Isya yang terakhir kemudian beliau sholat, maka merekapun melepaskannya. (Hr. Ahmad dan Muslim).  

Dan dalam satu lafazh: Beliau datang di Muzdalifah, lalu mereka sholat Maghrib. Kemudian mereka melepaskan kendaraan mereka dan aku membantu beliau kemudian beliau sholat Isya. Hr. Ahmad.

Keterangan

1.       Pelaksanaan sholat jama tamam atau jama qoshor disyariatkan juga dengan adzan dan iqomah.

2.       Jika menjamanya lebih dari dua sholat. Adzan tetap sekali saja, adapun iqomahnya dilakukan setiap hendak memindahkan dari satu sholat ke sholat yang lain.


PUISI GURUKU”Enung Sudrajat”

Meskipun belum mengenal lebih dalam sosok beliau,banyak ilmu yang telah beliau torehkan pada saya terutama tentang makna kehidupan disamping materi kuliah yang beliau ajarkan di kampus,kini yang kupanjatkan hanya doa yang tulus untunya ”Semoga beliau di ampuni semua dosanya mendapat tempat yang mulia disisi Allah”..berikut sebuah puisi singkat yang di ambil dari salah satu sahabat beliau ini mungkin bisa mengingatkan ku atas kebaikan beliau
“Dalam bacaanmu
Aku baru sebatas huruf
Dalam kalimatmu
Aku baru sebatas bunyi”
#Enung Sudrajat


“Masjid Raya PATTANI Thailand Selatan”

Kebahagian tidak tertara saat kami di sibukan dengan pekerjaan dan kepenatan kota Bangkok, hingga kami di pertengahan tahun 2012, kami silaturahim ke Pattani yang jauh lebih awal kami membayangkan bahwa disana itu suasana identik dengan Isu Sara ,ternyata berbeda dengan kenyataan, kami berjumpa dengan saudara kaum Muslimin sana lingkungan yang masih original mencerminkan peradaban Islam dan dalam tatanan kehidupan masyarakat di sana juga terjaga dengan Baik sampai sampai suasana itu belum pernah kami rasakan di lingkungan tanah air kami sendiri ,so bagi kaum muslimin yang tertarik untuk silaturahim ke Pattani kami siap mendampingi….DI tunggu yaa…:)


Software ILMU WARIS

Tiada kata yang terucap Pujisyukur pada Allah SWT atas Ilmu nya dan hidayah kepada kita..Baru Baru ini kita patut bersyukur karena adanya teknologi terutama terciptanya “software Ilmu Waris ”yang mana Ilmu waris merupakan kewajiban bagi setiap kaum muslimin untuk mempelajarinya dan mengamalkannya,memperaktekan ilmu waris ini memang tidak setiap saat di gunakan justru dengan seperti itu ISLAM mengatur dan labih paham terhadap problematika Kehidupan Manusia,Allah menegaskan dalam Al-qur’an dan Sunnah rasul tentang Ilmu waris Ini.Agan agan bisa download Software ini dengan mudah tinggal  KLIK http://muslim.or.id/apps/waris/  atau bisa Searching di Mbah Google  dengan nama Software onlinya At-tashilonline

dengan mudah kita bisa mengetahui Ilmu waris

dengan mudah kita bisa mengetahui Ilmu waris

Mudah mudahan dengan Informasi ini Agan Agan dapat pencerahan dan terimaksih banyak pada Tetangga sebelah yang telah share mudah mudahan yang membuat software ini mendapatkan keberkahan ilmunya dan tentunya mendapat amal baik dari Allah Swt ,Aamiin


merah saga


“Bioteknologi”

Siapa yang yang tidak kenal dengan makanan khas yang satu ini,,Yaitu TEMPE makanan khas Indonesia yang keberadaanya sudah masuk ke kancah Internasional..selidik demi selidik ternyata temper ini merupakan pengembangan Ilmu pengetahuan yang punya nama keren “BIOTEKNOGI” siapa sangka nenek moyang kita yang membuat pertama kali di dunia..konon TEMPE ini di kembangkan di Jepang oleh salah satu mahasiswa yang lagi belajar disana dan tempe ini di jadikan salah satu penelitiannya si mahasiswa ini melakukan penelitian di negri sakura mendapatkan kendaala yang sangat berat sebeb iklim yang berbeda singkat ceria mahasiswa ini membuat tempe sampai berulang ulang gagal sampai suatu saat dia berhasil dan dia lulus dari kuliahnya,dan dia pulang ke indonesia dengan membawa gelar sedangkan tempe di tinggal di jepang..sampai akhirnya tempe ini terkenal di jepang.agan agan yang punya kisah tentang tempe silahkan cantumkan di kolom comment..


Perlukah Logo HALAL bagi Kita ?

Perlukah Logo HALAL bagi Kita ?

“Ijtihad loga HALAL memang memberikan dampak Positif dan negatif,positif ketika ke absahan HALAL ini bisa di pertanggung jawabkan dan memberi kemaslahatan bagi manusia dan memberi gambaran pada diri bahwa makanan dapat mempengaruhi akhlaq dan kebiasaan seseorang,mayoritas muslim di belahan dunia mulai membuka mata di karenakan marak yang di clam Halal justru mengandung unsur haram..ini dampak negatif yang sangat besar.


TELUR ASIN

TELUR ASIN

“PROSES PEMBUATAN TELUR ASIN YANG LEZAT”


PESKIL SIB MASJID KHUDI CHO FA DAN TAKIYA

Pesantren kilat 1433H yang setiap tahun dilakukan pada setiap bulan suci Ramadhan oleh SIB, tahun ini dilaksanakan pada tanggal 11-12 Agustus 2012. Waktu dua hari memang tidak cukup untuk menimba segudang ilmu agama dan memperdalamnya. Suatu kewajiban bagi umat Islam untuk selalu menimba dan memperdalam ilmu agama serta mengamalkan dalam kehidupan sehari.hari

Hari pertama sanlat 1433H diisi oleh kunjungan ke Masjid Kudi Cho Fa dan Masjid Takiya sekitar 80 KM sebelah utara kota Bangkok yaitu Ayutthaya. Pemilihan kedua mesjid tersebut di kota Ayutthaya karena Ayutthaya dikenal sebagai ibu kota negara Thailand sebelum Bangkok. Masjid Kudi Cho Fa merupakan masjid tertua di Ayutthaya, sedangkan Masjid Takiya merupakan bekas wat (temple) umat Budha setelah pimpinan wat tersebut kalah dalam berdebat akhirnya masuk Islam.

Sebelum kunjungan kedua masjid tersebut, sanlat 1433H dibuka oleh Bapak Dubes Lutfi Rauf. Acara pembukaan tersebut juga dihadiri oleh Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan yang baru yaitu Bapak Yunardi juga para orang tua. Kegiatan hari ini ditutup dengan lomba aksara bermakna Ramadhan 1433 H di Ruang A Yani

Suasana Siswa SIB lagi mendengarkan penjelasan sejarah mesjid “Kudi Cho Fa”

 

Penyerahan sumbangan dari siswa untuk kemakmuran mesjid

Penyerahan kenang kenangan oleh siswa

Penyerahan Cendramata dari pengurus mesjid khudi cho fa untuk “Sekolah Indonesia Bangkok”

 Guru dan siwsa beserta jajaran Pengurus masjid Khudi cho fa

Dewan Guru,siswa-siswi beserta Pengurus Masjid Khudi Cho Fa

Suasana di halaman” Masjid  Takiya”

 

Suasana Di dalam “Masjid Takiya”

 

Makam Pendiri “Masjid Takiya”


Tony Matthews: Creating Your Website With WordPress


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.453 pengikut lainnya